Jelajahnusantara.co.id| Palembang, 26 April 2026 – Di tengah riuhnya media sosial hari ini, satu pertanyaan penting muncul: apakah mahasiswa masih menjadi agen perubahan, atau justru telah berubah menjadi penonton yang sibuk menggulir layar?
Dulu, mahasiswa dikenal sebagai kelompok yang vokal, kritis, dan berani menyuarakan kebenaran. Sejarah mencatat bagaimana peran mahasiswa begitu besar dalam berbagai momentum penting bangsa. Namun hari ini, realitas tampak berbeda. Kritik sering kalah oleh konten viral, diskusi ilmiah tergeser oleh tren hiburan, dan idealisme perlahan digantikan oleh kenyamanan.
Fenomena ini tidak lahir begitu saja. Media sosial sebagai medium utama komunikasi telah mengubah cara berpikir dan bertindak generasi muda. Seperti yang pernah dikemukakan oleh Marshall McLuhan, “the medium is the message”—media bukan hanya alat, tetapi juga membentuk cara manusia memahami dunia. Dalam konteks ini, mahasiswa tidak hanya menggunakan media sosial, tetapi juga dibentuk oleh algoritma yang lebih mengutamakan sensasi daripada substansi.
Akibatnya, muncul generasi yang lebih cepat bereaksi daripada berpikir. Opini dibentuk dari potongan informasi, bukan dari proses analisis yang utuh. Bahkan, tidak sedikit mahasiswa yang lebih percaya pada narasi viral dibandingkan fakta yang telah diverifikasi. Hal ini jelas bertentangan dengan prinsip jurnalisme yang dikemukakan oleh Bill Kovach, bahwa kewajiban utama adalah pada kebenaran.
Lebih jauh lagi, kenyamanan juga menjadi faktor yang tidak kalah besar. Dunia digital menawarkan ruang aman yang membuat seseorang bisa “terlihat peduli” tanpa harus benar-benar terlibat. Cukup dengan membagikan ulang konten, memberi komentar, atau mengikuti tren, seseorang sudah merasa menjadi bagian dari perubahan. Padahal, perubahan sejati menuntut keberanian, pengorbanan, dan konsistensi.
Dalam perspektif dakwah, kondisi ini juga menjadi tantangan serius. Islam mengajarkan pentingnya menyampaikan kebenaran dengan cara yang bijak dan penuh hikmah, sebagaimana terkandung dalam An-Nahl 125. Namun jika mahasiswa sebagai generasi intelektual kehilangan daya kritisnya, maka siapa yang akan menjaga kualitas pemahaman dan penyampaian kebenaran itu sendiri?
Pertanyaannya bukan lagi apakah mahasiswa sudah tidak kritis, tetapi apakah kita secara sadar telah memilih untuk tidak kritis. Kenyamanan, distraksi, dan arus informasi yang deras seringkali membuat kita berhenti bertanya, berhenti membaca, dan berhenti berpikir.
Sudah saatnya mahasiswa kembali pada jati dirinya. Bukan sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi menjadi produsen gagasan. Bukan hanya mengikuti arus, tetapi berani melawan ketika arus itu salah arah.
Menjadi kritis memang tidak nyaman. Tetapi tanpa ketidaknyamanan itu, tidak akan pernah lahir perubahan.
(Dharma Jusuf Bhatoen).









